Kehidupan
Friday, January 11, 2013
Alhamdulillah
jika kita punya niat tulus dan semata karena Allah maka Allah akan membukakan jalannya bagi kita, 1 tahun yang menyesakkan dada dan menguras tenaga dan fikiran yang berlebihan akhirnya dilewati juga, jalan menuju yang lebih baik dan memberikan manfaat lebih bagi diri sendiri dan orang banyak semakin terbuka,Alhamdulillah ya Allah.
Friday, December 28, 2012
Malam
Malam itu gelap dan sunyi, sunyi itu indah namun gelap sesuatu yang menakutkan, gabungan sunyi dan gelap merupakan keunikan yang harus dimaknai oleh setiap orang dengan caranya sendiri, aku memilih memaknainya dengan segenap jiwa yang masih tersisa.
Tuesday, December 18, 2012
Thursday, December 13, 2012
Sunday, December 2, 2012
Ranji Jambak Tangah (Surau Baru) Palembayan
Ranji Jambak Tangah (Surau Baru) Palembayan
Menurut cerita dari kakekku bahwa turunanku dahulunya berasal dari Magek yang merantau ke Palembayan dan selanjutnya disebut saja sebagai Tuo Magek (karena nama aslinya sudah tidak bisa ditelusuri untuk diketahui)
Tuo Magek ini mempunyai 2 orang anak yang disebut Tuwo Pangka dan Tuwo Ujuang dan yang menjadi nenek moyangku adalah dari Tuwo Pangka.
Tuwo Pangka mempunyai 2 orang anak yang dipanggil Tuwo Masak dan Bungo Ameh, dari Bungo Ameh menghasilkan 4 orang anak (Gando, Tuanku Nan Sati, Udin dan Alam Kayo) sementara dari Tuwo Masak mempunyai 4 orang anak ( Mael, Kitab, Kabek dan 1 orang anak perempuan).
Dari Kabek lahir 5 orang anak (Bada, Bungo Alam, Ada,Sardi dan Tambuah)
Tambuah yang mempunyai 3 orang anak (Idjah, Urai dan Kilah). dari Urai lahir 5 orang anak (Saimah, Rain, Wahid, Somad dan Rajang).
Saimah mempunyai 3 orang anak (Siti Bisu, Zairullah dan Ripin), Siti Bisu mempunyai 3 orang anak (Sadina, Saeran, dan Djamiana)
Sadina mempunyai 7 orang anak (Basri, Adnan, Djusman, Djanewar, Arizal, Juniar dan Hanifah ) sedangkan Djamiana mempunyai 5 orang anak (Maiyar, Syafrial, Yusnimar, Rosmalini dan Gustinur dan Yen)
Dari Bungo Alam lahir 3 orang anak (Arab, Lipah dan Andah), sementara dari Ada lahir 2 anak yang dipanggil Tjontoh dan Katidjah. Tjontoh mempunyai 2 anak (Maruih dan Kamsiah), sedangkan Katidjah mempunyai 3 orang anak (Siah, Ahmad, Jalin).
Ahmad dengan gelar Dt. Maruhum Basa (Inyiak Damang) mempunyai seorang istri dari Sipisang (Bonjol) dan mempunyai seorang anak dengan nama Dr. Rusma (Pasar Palembayan), beliau (Dt. Maruhum Basa) juga mempunyai istri lainnya bernama Aisyah dan mempunyai 4 orang anak(Ahjidar, Ahjidir, Durmawel dan Bismar).
Jalin( Syekh Adam) atau biasa dipanggil Inyiak Isiah mempunyai beberapa anak dan yang paling bungsu Alif Busmar merantau ke Bandung dan sudah mempunyai keturunan disana.
Sementara Siah mempunyai 5 orang anak (Amat Asyik,Mariamin, Marisah, Dawamin dan Rusnan), Amat Asyik dan Mariamin meninggal dalam usia muda sedangkan Rusnan merantau ke yogyakarta, sehingga yang tinggal di kampung hanya Nenek Marisah dan Nenek Dawamin atau dipanggil sebagai Nenek Pangka dan Nenek Ujung.
Nenek Ujung mempunyai 1 orang anak diberi nama Rosima yang merantau ke Medan setelah menikah dan mempunyai 8 orang anak disana (Djumainar, Murzein, Nurhalida, Nurhayati, Mairuzar, Deliar, Nurul Jani dan Raidarsyah)
Nenek Pangka mempunyai 4 orang anak (Arbaani, Akhdin, Zahara dan Ramaiana), Akhdin merantau ke Bengkulu sedangkan Zahara meninggal waktu usia kecil.
dari Arbaani lahir pula 9 orang anak (Rusila Hasna, Yuzard, Ramly, Asri, Akmal, Nurmalisna, Syaifuddin, Nurdjanah dan Nasrun).
Rusila Hasna mempunyai 11 orang anak yang terdiri Surya Dharma (Jakarta, meninggal pada tanggal 27 Juni 2012), Husni Dewi Trini, Ratna Indrayati (yang meninggal saat masih bayi dan dimakamkan di kuburan keluarga Palembayan di Bukittingi), Andi Rachmatsyah, Asrul Bastoni (Cilegon), Rita Yuniati (penulis), Roslinda, Menia Roza Fitri, Nenia Roza Fitri (meninggal saat usia 1.5 tahun dan di makamkan di Mesjid Raya Indarung), Lestina Gusti dan Lestia Gusti.
Nurmalisna mempunyai 4 orang anak yang terdiri dari Teffik (Jakarta), Rudi Renaldi (Banjarbaru), Rina (Malang) dan Bobby.
Nurdjanah mempunyai 2 orang anak : Herizon Yusuf dan Yosinasari (yogyakarta).
Menurut cerita dari kakekku bahwa turunanku dahulunya berasal dari Magek yang merantau ke Palembayan dan selanjutnya disebut saja sebagai Tuo Magek (karena nama aslinya sudah tidak bisa ditelusuri untuk diketahui)
Tuo Magek ini mempunyai 2 orang anak yang disebut Tuwo Pangka dan Tuwo Ujuang dan yang menjadi nenek moyangku adalah dari Tuwo Pangka.
Tuwo Pangka mempunyai 2 orang anak yang dipanggil Tuwo Masak dan Bungo Ameh, dari Bungo Ameh menghasilkan 4 orang anak (Gando, Tuanku Nan Sati, Udin dan Alam Kayo) sementara dari Tuwo Masak mempunyai 4 orang anak ( Mael, Kitab, Kabek dan 1 orang anak perempuan).
Dari Kabek lahir 5 orang anak (Bada, Bungo Alam, Ada,Sardi dan Tambuah)
Tambuah yang mempunyai 3 orang anak (Idjah, Urai dan Kilah). dari Urai lahir 5 orang anak (Saimah, Rain, Wahid, Somad dan Rajang).
Saimah mempunyai 3 orang anak (Siti Bisu, Zairullah dan Ripin), Siti Bisu mempunyai 3 orang anak (Sadina, Saeran, dan Djamiana)
Sadina mempunyai 7 orang anak (Basri, Adnan, Djusman, Djanewar, Arizal, Juniar dan Hanifah ) sedangkan Djamiana mempunyai 5 orang anak (Maiyar, Syafrial, Yusnimar, Rosmalini dan Gustinur dan Yen)
Dari Bungo Alam lahir 3 orang anak (Arab, Lipah dan Andah), sementara dari Ada lahir 2 anak yang dipanggil Tjontoh dan Katidjah. Tjontoh mempunyai 2 anak (Maruih dan Kamsiah), sedangkan Katidjah mempunyai 3 orang anak (Siah, Ahmad, Jalin).
Ahmad dengan gelar Dt. Maruhum Basa (Inyiak Damang) mempunyai seorang istri dari Sipisang (Bonjol) dan mempunyai seorang anak dengan nama Dr. Rusma (Pasar Palembayan), beliau (Dt. Maruhum Basa) juga mempunyai istri lainnya bernama Aisyah dan mempunyai 4 orang anak(Ahjidar, Ahjidir, Durmawel dan Bismar).
Jalin( Syekh Adam) atau biasa dipanggil Inyiak Isiah mempunyai beberapa anak dan yang paling bungsu Alif Busmar merantau ke Bandung dan sudah mempunyai keturunan disana.
Sementara Siah mempunyai 5 orang anak (Amat Asyik,Mariamin, Marisah, Dawamin dan Rusnan), Amat Asyik dan Mariamin meninggal dalam usia muda sedangkan Rusnan merantau ke yogyakarta, sehingga yang tinggal di kampung hanya Nenek Marisah dan Nenek Dawamin atau dipanggil sebagai Nenek Pangka dan Nenek Ujung.
Nenek Ujung mempunyai 1 orang anak diberi nama Rosima yang merantau ke Medan setelah menikah dan mempunyai 8 orang anak disana (Djumainar, Murzein, Nurhalida, Nurhayati, Mairuzar, Deliar, Nurul Jani dan Raidarsyah)
Nenek Pangka mempunyai 4 orang anak (Arbaani, Akhdin, Zahara dan Ramaiana), Akhdin merantau ke Bengkulu sedangkan Zahara meninggal waktu usia kecil.
dari Arbaani lahir pula 9 orang anak (Rusila Hasna, Yuzard, Ramly, Asri, Akmal, Nurmalisna, Syaifuddin, Nurdjanah dan Nasrun).
Rusila Hasna mempunyai 11 orang anak yang terdiri Surya Dharma (Jakarta, meninggal pada tanggal 27 Juni 2012), Husni Dewi Trini, Ratna Indrayati (yang meninggal saat masih bayi dan dimakamkan di kuburan keluarga Palembayan di Bukittingi), Andi Rachmatsyah, Asrul Bastoni (Cilegon), Rita Yuniati (penulis), Roslinda, Menia Roza Fitri, Nenia Roza Fitri (meninggal saat usia 1.5 tahun dan di makamkan di Mesjid Raya Indarung), Lestina Gusti dan Lestia Gusti.
Nurmalisna mempunyai 4 orang anak yang terdiri dari Teffik (Jakarta), Rudi Renaldi (Banjarbaru), Rina (Malang) dan Bobby.
Nurdjanah mempunyai 2 orang anak : Herizon Yusuf dan Yosinasari (yogyakarta).
Saturday, August 6, 2011
Rumah gadang yang tetap berdiri kokoh
Rumah gadang di Palembayan yang sudah berumur hampir100 tahun menjadi kebanggaanku karena penuh memory terutama disaat libur dengan keluarga besar, mandi bareng di sungai, memancing belut di sawah dan setiap bangun pagi menyusuri pematang sawah yang mempunyai pemandangan yang sangat indah, padi yang menguning yang menandakan masa panen hampir tiba.
Keinginan untuk membangun kembali keindahan rumah gadang ini agar tetap lestari di kampung ku tercinta, menurut cerita dari nenekku bahwa rumah gadang ini dibangun oleh Inyiah Isiah atau Syekh Adam (Jalil) yang sudah meninggal pada tanggal 6 April 1968, saat itu aku masih berusia 10 tahun.
Syekh Adam mempunyai 2 saudara kandung yang dipanggil Inyiak Achmad (Inyiak Damang)yang menurut cerita meninggal tahun 1946 dan Siah yang tidak diketahui tahun kapan meninggalnya.
Inyiak Isiah membangun rumah gadang ini dengan cara ber gotong royong, beliau dengan sekitar 20 orang penduduk lainnya bersama ke hutan mencari kayu dan membangun rumah gadang tersebut yang selesai tahun 1926 yang kemudian dihuni oleh 2 kemenakan beliau (Marisah dan Dawamin) atau kami biasa memanggil beliau dengan Nenek Pangka dan Nenek Ujuang, ke 2nya merupakan keturunan dari Nenek Siah,Nenek Siah mempunyai 5 orang anak yang umumnya meninggal diusia kecil (Amat Asjik,Mariamin,Marisah, Dawamin dan Rusnan) dan yang masih hidup saat aku lahir adalah Nenek Marisah dan Nenek Dawamin.
Rumah ini dibangun tanpa menggunakan paku, hanya menggunakan pasak yang terbuat dari kayu dan sampai saat ini masih dapat terlihat ditiang2 bangunan pada bagian atap dan lantai bangunan ini.
Keinginan untuk membangun kembali keindahan rumah gadang ini agar tetap lestari di kampung ku tercinta, menurut cerita dari nenekku bahwa rumah gadang ini dibangun oleh Inyiah Isiah atau Syekh Adam (Jalil) yang sudah meninggal pada tanggal 6 April 1968, saat itu aku masih berusia 10 tahun.
Syekh Adam mempunyai 2 saudara kandung yang dipanggil Inyiak Achmad (Inyiak Damang)yang menurut cerita meninggal tahun 1946 dan Siah yang tidak diketahui tahun kapan meninggalnya.
Inyiak Isiah membangun rumah gadang ini dengan cara ber gotong royong, beliau dengan sekitar 20 orang penduduk lainnya bersama ke hutan mencari kayu dan membangun rumah gadang tersebut yang selesai tahun 1926 yang kemudian dihuni oleh 2 kemenakan beliau (Marisah dan Dawamin) atau kami biasa memanggil beliau dengan Nenek Pangka dan Nenek Ujuang, ke 2nya merupakan keturunan dari Nenek Siah,Nenek Siah mempunyai 5 orang anak yang umumnya meninggal diusia kecil (Amat Asjik,Mariamin,Marisah, Dawamin dan Rusnan) dan yang masih hidup saat aku lahir adalah Nenek Marisah dan Nenek Dawamin.
Rumah ini dibangun tanpa menggunakan paku, hanya menggunakan pasak yang terbuat dari kayu dan sampai saat ini masih dapat terlihat ditiang2 bangunan pada bagian atap dan lantai bangunan ini.
Monday, July 4, 2011
Dubai
Salah satu sudut pemandangan di kota Dubai , burung merak yang dengan bebasnya berkeliaran sangat cantik dan sementara disepanjang jalan kita akan akan menemukan tanaman yang berbunga indah dan rapi.
Subscribe to:
Comments (Atom)
