Keinginan untuk membangun kembali keindahan rumah gadang ini agar tetap lestari di kampung ku tercinta, menurut cerita dari nenekku bahwa rumah gadang ini dibangun oleh Inyiah Isiah atau Syekh Adam (Jalil) yang sudah meninggal pada tanggal 6 April 1968, saat itu aku masih berusia 10 tahun.
Syekh Adam mempunyai 2 saudara kandung yang dipanggil Inyiak Achmad (Inyiak Damang)yang menurut cerita meninggal tahun 1946 dan Siah yang tidak diketahui tahun kapan meninggalnya.
Inyiak Isiah membangun rumah gadang ini dengan cara ber gotong royong, beliau dengan sekitar 20 orang penduduk lainnya bersama ke hutan mencari kayu dan membangun rumah gadang tersebut yang selesai tahun 1926 yang kemudian dihuni oleh 2 kemenakan beliau (Marisah dan Dawamin) atau kami biasa memanggil beliau dengan Nenek Pangka dan Nenek Ujuang, ke 2nya merupakan keturunan dari Nenek Siah,Nenek Siah mempunyai 5 orang anak yang umumnya meninggal diusia kecil (Amat Asjik,Mariamin,Marisah, Dawamin dan Rusnan) dan yang masih hidup saat aku lahir adalah Nenek Marisah dan Nenek Dawamin.
Rumah ini dibangun tanpa menggunakan paku, hanya menggunakan pasak yang terbuat dari kayu dan sampai saat ini masih dapat terlihat ditiang2 bangunan pada bagian atap dan lantai bangunan ini.





